Tampilkan postingan dengan label Politik Dan Pemerintahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik Dan Pemerintahan. Tampilkan semua postingan

Traveling Salah Info, Jalan Kaki Sampai Loyo

SAAT mengingat kembali masa liburan yang lalu, saya tersenyum. Banyak kejadian yang tidak terlupakan di perjalanan bersama putri saya yang pertama ke Los Angeles (LA), California, AS. Semestinya, saya pergi bersama suami.

Namun, karena suami tidak bisa cuti, saya mengajak Regina (7), untuk menemani. Itulah kali pertama saya menginjakkan kaki di LA dan kali pertama melakukan perjalanan jauh tanpa didampingi suami. Saya masih teringat kejadian mengerikan sekaligus menggelikan yang kami alami.

Kami berangkat dari Surabaya ke LA dan transit di Hongkong. Ketika itu, kami bersiap di gate Bandara Juanda. Di antrean masuk ke pesawat, kami bersama dengan rombongan TKW yang akan berangkat ke Hongkong. Ketika sampai di pengecekan tiket, petugas mempersilakan kami melalui jalur khusus first class.

Saya menanyakan alasan perpindahan jalur tersebut kepada petugas. Saya terkejut saat petugas menjelaskan bahwa kami diberi free upgrade tiket dari ekonomi ke first class untuk rute Surabaya–Hongkong. Tuhan sungguh amat baik.

Di perjalanan menuju LA kami diuji. Karena ada badai, pesawat terguncang hebat. Kami histeris dan menyebut nama Tuhan berkali-kali. Karena luar biasa panik, saya menggesek credit card ke fasilitas telepon di pesawat.

Saya menelepon suami untuk mengurangi rasa takut. Saya berhasil menghubungi suami hanya 1 menit. Ketika pulang ke Indonesia, baru saya tahu bahwa saya harus membayar mahal untuk 1 menit itu. Setelah tiga jam kami terguncang, cuaca membaik. Kami mendarat sempurna di LA.

Pada hari pertama kami langsung menuju ke Disneyland. Petugas hotel menyarankan kami berjalan kaki saja karena jaraknya dekat. Kami pun percaya. Setelah sekian lama, akhirnya, kami sampai di Disneyland yang dimaksud dan ternyata TIDAK DEKAT! Kami sungguh nekat. Padahal, saya tidak membawa peta dan hanya menggunakan ilmu kira-kira.

Dengan lunglai, sampai juga kami di Disneyland. Saat membayar tiket masuk, barulah kami tahu bahwa semestinya kami naik kereta khusus dengan logo tertentu yang disediakan Disneyland dari hotel. Kami tidak dipungut biaya untuk itu. OMG, semestinya kaki ini tidak perlu gempor untuk berjalan. Pengalaman tersebut tidak terlupakan.

Saat pulang, kami tidak mau mengulang perjalanan kaki yang melelahkan itu. Kami naik kereta khusus tersebut. Cukup 7 menit saja, kami sampai di pintu masuk hotel. Kami tertawa terpingkal-pingkal saat masuk kembali ke hotel. Kami menertawakan diri sendiri yang betul-betul ndeso.

Dua Pelajar Tewas Dibantai Aparat Kantor Camat dan Desa Dibakar Massa

BIMA–Anggota Polres Bima didu­kung kekuatan Brimob, akhirnya membubarkan paksa massa Front Rakyat Anti Tambang (FRAT) yang telah menduduki Pelabuhan Laut Sape, Bima, NTB, selama lima hari.

Akibatnya, tiga orang pengunjuk rasa tewas, sementara belasan lain­nya luka-luka. Dua korban te­was masih berstatus pelajar, yakni Arif Rahman (19) dan Syaiful (17). Sementara seorang lainnya bernama Ansyari (20). Ia tewas akibat tembakan peluru yang diduga dari aparat ke­amanan.

Pembubaran paksa dilakukan aparat kepo­lisian, menyusul upaya negosiasi yang dilakukan Polres Bima dibantu Polda NTB tidak mem­buah­kan hasil. Massa FRAT tetap menduduki Pela­buhan Laut Sape.

Selama lima hari Pelabuhan Sape diblokir warga, ratusan penumpang dan truk tujuan Labuan Bajo maupun Sumba, NTT tertahan dan tidak bisa menyeberang. Begitu pula sebaliknya, warga arah Timur yang menyeberang dengan feri ke Pelabuhan Sape, tertahan di Labuan Bajo maupun Sumba.

Informasi diperoleh koran ini, pembubaran massa FRAT yang memblokir Pelabuhan Sape dilakukan aparat kepolisian sekitar pukul 06:30 Wita, kemarin. Awalnya, pasukan Brimob dibantu anggota Samapta Polres Bima bergerak ke Pelabuhan Sape, yang diduduki massa FRAT.

Karena pintu masuk Pelabuhan Sape ditutup massa, aparat harus membuka paksa pintu gerbang. Ketika aparat memasuki areal pelabuhan, massa mundur ke pintu masuk Dermaga.

Sebelum bertindak, aparat yang dipimpin langsung Kapolres Bima Kota AKBP Kumbul KS SIK didampingi Kasat Brimob Polda NTB, melakukan negosiasi dengan massa FRAT, tetapi usaha itu gagal. “dilakukan tiga kali. Tapi, hasilnya tetap sama. Massa tetap ngototbertahan,” beber salah seorang warga Sape, Haris.

Aparat kemudian mengeluarkan tembakan peringatan. Namun, tembakan itu dijawab massa dengan mengangkat senjata tajam berupa parang, tombak, bambu runcing dan senjata tajam lain yang telah dipersiapkan dari awal. Saat itulah, aparat mulai beringas. Mereka menembak ke arah kerumunan massa, sehingga suasana di pela­buhan mencekam.

Akibat bentrokan itu, sejumlah massa terkapar di Pelabuhan Sape. Massa lainnya, melarikan diri hingga harus terjun ke laut.

Tiga orang dilaporkan meninggal dunia, yakni Arif Rahman (19), Syaiful (17) dan Ansyari. Sumber lain menyebutkan jumlah korban jiwa sebanyak lima orang, tetapi baru dua orang yang teridentifikasi. Sementara korban luka mencapai puluhan orang.

Korban yang menjalani perawatan intensif di RSU Bima, yakni Sahbudin (31), Ibrahim (45), Awaludin (24), Suhaimin (23), Miftahudin (18), Masnun (17), Hasnah (39), Hasanudin (28), Ilyas Sulaiman (45). Mereka rata-rata mengalami luka tembak pada bagian kaki, luka sobek pada pelipis dan luka memar pada beberapa bagian tubuhnya.

“Beberapa warga yang terluka dilarikan ke rumah sakit. Warga yang kondisinya parah dirawat di RSU Bima,” terang Haris.
Selain membunuh dan melukai warga, aparat juga menangkap puluhan demonstran. Sebanyak 45 orang yang terdiri dari laki-laki dewasa dan enam anak-anak ditangkap. Bahklan, lima perempuan dewasa juga ditangkap polisi.

Tindakan anarkis polisi itu membuat massa meradang. Mereka kemudian melampiaskan kemarahan dengan merusak sejumlah sarana milik pemerintah maupun rumah warga yang pro-pertambangan.

Kantor Polsek Lambu dibakar massa. Rumah kepala Desa Rato dan rumah Sekretaris Camat Lambu, Abdurrahman, juga tak luput dari amukan massa. Bahkan, kantor urusan agama (KUA) dan kantor unit pelaksana teknis (UPT) serta rumah beberapa anggota DPRD Bima yang berasal dari Kecamatan Lambu juga tak luput dari perusakan.

Selain itu, sejumlah rumah milik warga yang dituding sebagai pendukung pertambangan juga dijadikan sasaran kemarahan, seperti di Desa Rato, Simpasai, dan Desa Lanta, hangus dilalap api. Pohon-pohon pun ditebang.

Kepala Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat, Brigadir Jenderal Arif Wachyunadi, Sabtu petang, menjelaskan, aksi unjuk rasa warga Kecamatan Lambu, Kabupaten Bima, dibubarkan paksa karena mengganggu ketertiban umum dan mengakibatkan orang dan kendaraan tidak bisa menyeberang. ”Penanganannya sudah melalui tahapan pola 4P, yakni pelayanan, pengendalian, penanggulangan, penindakan, ” kata Arif.

Sementara itu, Kabid Humas Polda NTB AKBP Sukarman Husein, menambahkan, dua orang tewas dalam kejadian itu dan puluhan warga luka-luka. “Ada yang luka ringan dan luka berat,” katanya kepada Lombok Post dihubungi via ponsel, tadi malam.

Warga yang meninggal dunia itu belum diketahui sebab kematiannya. Namun, keduanya tewas saat aparat kepolisian mengambil tindakan represif kepada massa yang hampir seminggu menduduki Pelabuhan Sape. “Saya tak tahu pasti penyebab kematiannya,” jelasnya.

Pembubaran massa yang berakibat pada meninggalnya dua warga itu, merupakan buntut dari aksi massa yang menduduki Pelabuhan Sape dalam kurun waktu lima hari. Menurut Sukarman, sebelum mengambil tindakan represif, pihak­nya sudah melakukan pende­katan persuasif dan manusiawi. Tapi, massa itu tidak menggubris tahapan yang ditempuh aparat.

“Aksi menduduki pelabuhan itu sangat mengganggu kepetingan umum. Semuanya terhambat gara-gara aksi massa tersebut,” terangnya.

Ketua KPK Marah Besar

JAKARTA–Nunun Nurbaeti, ter­sang­ka kasus suap cek perjalanan untuk pemenangan pemilihan Deputi Gu­bernur Senior Bank Indonesia (DGS BI) Miranda Goeltom kembali me­nikmati kasur nyaman. Pasalnya, sosialita pecinta tas mewah Hermes itu, sejak Jumat (23/12) sore lalu ter­nyata sudah dirawat di kamar VIP RS Abdi Waluyo Jalan Cokroaminoto Menteng, Jakarta.

Wamenkum HAM Denny Indrayana kepada wartawan mengatakan bahwa istri mantan Wakapolri Adang Dara­djatun itu telah dilarikan ke RS Abdi Waluyo sejak Jumat (23/12) sore se­kitar pukul 17:00.
Bahkan, me­nurut laporan yang didapatnya dari Kepala Rutan Pondok Bambu Herlina Chandrawati, awalnya pihak KPK mengebon Nunun untuk berobat ke RS MMC Jalan Rasuna Said, namun ternyata dalam pelak­sanaannya itu semua diralat dan dibawa ke RS Abdi Waluyo.

Ketua KPK Abraham Samad yang dihubungi Jawa Pos (Grup Radar Bogor) meradang dengan pembantaran Nunun untuk kedua kalinya setelah tertangkap ini. ”Sampai sekarang saya tidak tahu tentang pembantaran Nunun,” tegas Abraham.

Apalagi saat disinggung tentang para penyidik KPK yang menjemput Nunun lalu mengubah lokasi rumah sakit dari RS MMC ke Abdi Waluyo seperti yang dikatakan Wamenkum HAM Denny.

Sekali lagi, Abraham tegas mengatakan bahwa hingga kemarin, para pimpinan KPK tidak ada yang mengeluarkan izin pem­bantaran untuk Nunun. Dia pun mengaku kaget dengan kabar bahwa penyidik KPK telah mengizinkan untuk membantarkan Nunun.

”Kami (pimpinan) tidak pernah mengeluarkannya. Kalaupun kami mengeluarkan (izin pembantaran) yang bersangkutan harus dalam kondisi sekarat atau sudah pingsan berkali-kali. Kalau dalam kondisi biasa-biasa saja, saya tidak mungkin akan mengeluarkan pembantaran,” kata pria asal Makasar itu.

Karena itulah, Abraham mengaku akan segera meminta informasi dari penyidik di lapangan terkait kondisi Nunun. Dia ingin menge­tahui apakah Nunun benar-benar sakit parah dan layak untuk dilarikan ke rumah sakit atau hanya menderita sakit biasa.

Menurut dia, apabila nanti ternyata Nunun hanya menderita sakit biasa, maka ia berjanji akan secepatnya mengembalikan Nunun ke rumah tahanan. Tapi kalau memang kondisinya sekarat dan sakit parah, maka akan dipertimbangkan lebih lanjut apakah Nunun layak dirawat atau tidak.

Lebih lanjut, pria yang dikenal sebagai aktivis antikorupsi itu menjelaskan, pembantaran seorang tahanan KPK memang harus seizin petugas atau penyidik KPK. Namun penyidik KPK juga harus melaporkannya kepada para pimpinan dan para pimpinanlah yang memutuskan apakah seorang tahanan itu bisa dibantarkan atau tidak.

Tapi sekali lagi, untuk kasus Nunun itu, dia mengatakan bahwa hingga sore kemarin para pimpinan KPK sama sekali tidak diberi laporan oleh para penyidik tentang pembantaran Nunun.

Apakah dengan begitu penyidik KPK sudah menyalahi aturan dengan membantarkan Nunun? ”Kalau memang mereka tidak melaporkan kepada kami, mereka salah,” tuturnya dengan nada tinggi.

Namun saat disinggung apakah pihaknya akan memberi sanksi kepada para penyidik yang telah dengan mudah memberikan izin untuk Nunun, Abraham mengaku akan menindak siapa pun pihak yang terbukti bersalah.

Seperti diketahui, para tahanan KPK ditahan dengan batasan masa tahanan 20 hari, dan dapat diperpanjang. Nah, apabila KPK memutuskan untuk membantarkan yang bersangkutan seorang tahanannya, maka selama masa pembantaran itu, tidak memotong masa tahanan. Tapi akibatnya, proses penyidikan untuk melengkapi berkas menjadi tertunda.

Sebelumnya Nunun selama sekitar satu pekan pernah dirawat di RS Polri Kramat Jati. Karena kondisinya sudah membaik, maka perempuan yang ditangkap oleh aparat Thailand 7 Desember lalu itu dikembalikan ke Rutan Klas I Khusus Wanita Pondok Bambu.

Hingga sore kemarin, Karutan Pondok Bambu Herlina Chandrawati belum bisa dikonfirmasi tentang pembantaran Nunun. Ponsel yang dihubungi tidak diangkat begitu juga pesan singkat yang dikirim juga tidak diresponsnya.

Sementara itu, berdasarkan pantuan Jawa Pos di RS Abdi Waluyo beberapa keluarga Nunun sempat keluar masuk di rumah sakit tersebut. Beberapa dari mereka terlihat keluar dan masuk menggunakan beberapa mobil Toyota Kijang Innova hitam berpelat nomor B 289 RFD. Namun saat dicegat wartawan, para keluarga itu tidak mau berkomentar apa pun.

Bahkan pihak rumah sakit pun terkesan menutupi tentang dirawatnya Nunun. Beberapa resepsionis mengaku tidak memiliki daftar pasien dengan nama Nunun. Hanya Ina Rachman, kuasa hukum Nunun membenarkan bahwa kliennya kini sedang dirawat. ”Ibu masih dirawat, tapi kondisinya saya belum tahu. Coba saja tanya ke dokter,” kata Ina saat dihubungi wartawan, kemarin.

Berdasarkan informasi yang dikumpulkan, Nunun dirawat di salah satu kamar VIP di rumah sakit tersebut. “Dia di kamar lantai 2 ruangan K 204.

Tadi ada beberapa keluarga yang keluar masuk ke sana. Kamar itu juga dijaga polisi bahkan ada juga tentara menggunakan baret hijau,” kata seorang petugas yang tidak mau disebutkan namanya.