Tampilkan postingan dengan label b. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label b. Tampilkan semua postingan

Penumpang Gelap di Pesawat Barca

ROMBONGAN Barcelona memang sudah mendarat selamat di Jepang Minggu malam waktu setempat (11/12). Barca - sebutan Barca - bertolak ke Negeri Sakura itu hanya selang satu jam setelah mengalahkan Real Madrid 3-1 dalam el clasico di Santiago Bernabeu. Diselingi transit di London, Inggris, total penerbangan Barca ditempuh dalam 12 jam atau setengah hari.

Ada cerita menarik terkait perjalanan penerbangan mereka. Yakni, ditangkapnya seorang penumpang gelap di pesawat Barca ketika bersiap takeoff di Bandara Barajas, Madrid. Efeknya, keberangkatan Barca pun molor sekitar setengah jam. Yang menarik, penumpang gelap itu ternyata wanita.

Sebagaimana dilansir Marca, wanita berambut coklat yang namanya tidak dipublikasikan itu diidentifikasi berasal dari Belgia tapi berpaspor Kuba. Dia masuk ke pesawat setelah naik bus yang ditumpangi para pejabat teras Barca seperti Presiden Sandro Rosell dan tiga direktur, masing-masing Jordi Moix, Toni Freixa dan Javier Faus.

Beruntung, aksinya diketahui petugas keamanan bandara ketika tengah menaiki tangga pesawat. “Petugas langsung curiga dengan gerak-geriknya. Kedoknya terbongkar setelah tidak bisa menunjukkan boarding pass,” kata salah seorang petugas di Bandara Barajas.

“Dia hanya ingin terbang gratis ke Tokyo dan tidak memiliki maksud jahat kepada rombongan Barca. Dia juga mengatakan ingin bersembunyi di toilet pesawat,” imbuhnya.

Sebelum wanita Belgia itu, juga ditemukan penyusup di pesawat Barca ketika terbang dari Bandara El Prat di Barcelona ke Barajas atau sebelum menjalani el clasico. Penyusup itu bukan manusia, melainkan ditemukannya beberapa ekor tikus di bagasi pesawat.

“Kutu tikus berbahaya karena menyebabkan seseorang kehilangan keseimbangan. Tapi, yang menyebabkan penerbangan Barcelona ke Madrid molor setengah jam bukan tikus-tikus itu, melainkan karena kabut”. Demikian sebagaimana dilansir radio Cadena SER.

"Bumi Geulis"Sulit Ditambah Tekstur Tanah Terlalu Rapuh

BOGOR-Terbatasnya jumlah perjalanan kereta rel diesel (KRD) Bumi Geulis rute Bogor-Sukabumi, membuat sebagian besar warga Bogor memilih menggunakan minibus. Padahal, moda kereta api rute ini sebetulnya banyak peminat. Hal ini membuat sejumlah penumpang mengeluhkan terbatasnya jumlah KRD yang beroperasi sehari sekali saja.

Hal ini menyebabkan sering terjadi penumpukan penumpang setiap hari, yaitu pukul 05:00 dari Sukabumi dan pukul 17.00 dari Bogor. Terbatasnya jadwal kereta tujuan Sukabumi yang hanya ada pada pagi dan sore hari ini, menyebabkan banyak warga memilih menggunakan moda transportasi lain seperti bus.

“Idealnya dua kali, sehingga penumpang tak menumpuk pada satu keberangkatan. Kami juga penumpang kereta seperti penumpang KRL lainnya, tapi kenapa permintaan penambahan jam operasional tak pernah ditanggapi,” kata Dedi Ahmad (31), penumpang KRD Gunung Geulis kepada Radar Bogor, kemarin.

Pernyataan tersebut diamini oleh Bagus (29), penumpang asal Leuwiliang, Bogor yang hendak menuju Sukabumi. Ia meminta agar PT KAI tanggap karena banyak penumpang yang bekerja di Sukabumi. “Ya, mau nggak mau harus ditambah biar tidak ada diskriminasi,” imbuhnya.

Kepala Stasiun Bogor Rochman mengatakan, penambahan jam operasional Bumi Geulis dinilai rapuh, lantaran bantalan rel keretanya masih rawan amblas jika dilalui lebih dari sekali perjalanan.

“Kondisi KRD Bumi Geulis belum memungkinkan adanya penambahan jam operasional. Permintan penumpang itu sudah disampaikan ke pimpinan, tapi rel sepanjang Bogor-Sukabumi dinilai masih rapuh,” katanya.

Dia menjelaskan, guna mengindari overkapasitas, pihaknya hanya membatasi 500 tiket setiap harinya. “Sejak Agustus lalu kami sediakan 500 tiket tiap hari untuk delapan gerbong,” ucapnya.

Namun kenyataannya, penumpang KRD Bumi Geulis bisa mencapai 700-900 penumpang, sehingga dinilai mengancam keselamatan dan keamanan selama perjalanan. “Kami hanya bisa berharap, penumpang jangan memaksakan diri naik Bumi Geulis jika sudah penuh sesak,” tukasnya.

Jaksa Sistoyo Jual Tuntutan Ketua PN Dipanggil KPK

CIBINONG–Perjalanan menguak kasus dugaan suap menyuap di tubuh Korps Adhiyaksa Cibinong kembali diwarnai pemanggilan saksisaksi. Kemarin, giliran Ketua Pengadilan Negeri Cibinong, Sudaryadi yang dikabarkan menjalani pemeriksaan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Jakarta.

Sempat beredar kabar, bersama Ketua PN, KPK juga memanggil mantan Kepala Kejaksaan Negeri Cibinong, Suripto Widodo, jaksa di Kejari Cibinong, Viva Hari Rustaman dan dua Hakim PN Cibinong, Emmanuel Ari dan Agustina Dia.

Kepada Radar Bogor, Humas KPK Johan Budi membenarkan adanya pemanggilan Ketua PN Cibinong, Sudar yadi. Pemanggilan tersebut untukmeminta keterangan Ketua PN sebagai saksi dalam kasus dugaan pemalsuan surat dengan terdakwa Edward Bunyamin yang tengah ditangani jaksa Sistoyo.

“Pemanggilan saksi dalam kasus dugaan suap oknum Kejari Cibinong ini dalam rangka pengembangan kasus,” ujarnya melalui sambungan telepon. Sementara itu, Humas PN Cibinong, Emmanuel Ari menjelaskan, pemanggilan beberapa saksi tersebut batal terlaksana. Padahal, menurut dia, beberapa orang yang dijadwalkan untuk dimintai keterangan sebagai saksi, telah hadir dan siap menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta.

“Tidak jadi diperiksa semua,” singkatnya kepada Radar Bogor, tadi malam. Akibat adanya rencana pemanggilan saksi oleh KPK ini, sidang kasus dugaan penipuan dengan terdakwa Edward M Bunyamin dengan agenda pembacaan pembelaan (pledoi) di Pengadilan Negeri (PN) Cibinong, kemarin, ditunda hingga pukul 19:00.

“Kami sudah berada di sini (PN Cibinong) sejak pukul 07:00 pagi. Jadwal sidangnya pukul 09:00,” ujar salah satu kuasa hukum terdakwa, Charles Sebayang kepada Radar Bogor, kemarin. Menurut dia, kubu terdakwa akan tetap menunggu kedatangan Majelis Hakim dan menolak untuk menunda sidang di hari-hari berikutnya.

Terlebih, pada sidang tersebut, rencananya kuasa hukum terdakwa akan membacakan pembelaan, dimana pada perkara dengan nomor r egister 654/pen.pid/2011/PN.Cbn tersebut, terdakwa tidak terbukti secara meyakinkan menurut hukum, melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam dakwaan. “Kami akan tunggu sampai Majelis Hakim datang dan tak mau ditunda lagi,” kata dia sekitar pukul 19:00, tadi malam.

Pada sidang dengan agenda pembacaan pledoi itu, tim kuasa hukum meminta Majelis Hakim membebaskan terdakwa dari segala dakwaan jaksa penuntut umum (JPU), serta mengembalikan hak dan kedudukan martabat terdakwa dengan merehabilitasi nama baik.

Ia mengatakan, perkara yang menimpa terdakwa merupakan kasus perdata yang dipaksakan menjadi perkara pidana. Sehingga tim kuasa hukum merasa tuntutan JPU yakni pidana penjara selama dua tahun terlalu berat untuk terdakwa. “Kami juga meminta agar biaya perkara dibebankan kepada negara,” imbuh Ketua Tim Kuasa Hukum terdakwa, Danu Sebayang.

Nyanyian Edward Selama menunggu Majelis Hakim untuk menjalani persidangan, kemarin Edward sempat memaparkan kasus dugaan suap-menyuap antara dirinya dengan jaksa Sistoyo. Melalui kuasa hukumnya, Edward mengaku tertekan sehingga mengiyakan permintaan jaksa Sistoyo untuk membayar sejumlah uang dengan imbalan pengurangan tuntutan.

“Tim pengacara sudah bilang jangan, karena kami yakin akan memenangkan kasus ini. Tapi terdakwa merasa tertekan,” papar Charles Sebayang kepada Radar Bogor, kemarin. Edward juga masih terus menjalani pemeriksaan oleh KPK, seperti pada Senin (12/12) lalu dan dijerat dengan Pasal 5 Ayat 1 dan atau Pasal 13 UU tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Edward mengaku mendapat penawaran secara lisan dari jaksa Sistoyo, yakni pengurangan tuntutan dengan membayar sejumlah uang Rp100 juta dengan tuntutan sepuluh bulan, Rp150 juta dengan tuntutan delapan bulan dan Rp50 juta untuk tuntutan satu tahun setengah. “Menurut pengakuan klien kami, penawaran ini disampaikan pada malam itu juga (malam penangkapan oleh KPK, Senin 21/11),” tandasnya.

Berhenti Jadi Wakil Bupati Garut, Diky Candra Kembali ke Panggung Hiburan Main Bareng Sule, Dapat Honor Rp2 Juta per Episode


Setelah resmi berhenti sebagai Wakil Bupati Garut, Diky Candra yang kini tinggal di Perumahan Duta Mekar Asri, Jalan Cempaka Raya No Q 1 No 5, RT 14/ 15, Desa Cileungsikidul, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, kembali bergelut dengan dunia hiburan.RAUT wajah yang terlihat lelah usai semalaman syuting di Jakarta, tak membuat Dicky Chandra enggan melayani seniman asal Garut dan wartawan Radar Bogor ketika berkunjung ke rumahnya.

Mengenakan kaus oblong putih dibalut jaket militer berwarna hijau dan celana jeans hitam, pria yanglahir 37 tahun lalu itu langsung menebar senyum ramah kepada seniman muda yang datang langsung dari Garut untuk berguru.

Dengan logat khas Sunda, Dicky memaparkan keputusannya menanggalkan jabatan Wakil Bupati Garut. Hubungan yang tidak harmonis dengan Bupati Garut Aceng HM Fikri menjadi obrolan hangat dengan para seniman muda Garut tersebut.

Namun, Dicky Chandra tak mau berpanjang lebar menjelaskan hubungannya dengan Bupati Garut yang tidak harmonis. Ia kemudian mengambil gitar dari salah satu band lokal asal Garut ”D Garuters” dan menyanyikan sebuah lagu yang diciptakan oleh D Garuters.

Ketika Dicky mulai memainkan jarinya di senar gitar, dua personel D Garuters mengikuti melodi yang dibawakan, sedangkan dua anak band lainnya menyanyikan sebuah lagu percintaan yang belum diberi judul.

Alunan musik gitar dari ketiga orang tersebut, ditambah vokal khas anak Garut tak pelak mulai meramaikan suasana rumah bertingkat dengan cat krem tersebut. ”Saya sangat menikmati suasana seperti ini. Suasana ini tidak bisa saya temui selama saya menjabat sebagai wakil bupati,” ujarnya.

Usai menyanyikan beberapa lagu dan berbincang dengan personel D Garuters, ayah empat anak yang lahir di Tasikmalaya, 12 Mei 1974 itu mulai fokus dengan beberapa pertanyaan yang dilontarkan wartawan Radar Bogor.

Setelah turunnya keputusan resmi dari Mendagri terkait pemberhentian secara hormat sebagai wakil bupati, ia mengaku harus merangkak lagi dari awal di panggung hiburan. Bahkan, secara gamblang Dicky mengaku ketika bermain di Opera van Java bersama Sule, Andre, Parto, Aziz dan Nunung di salah satu stasiun televisi swasta ternama, ia hanya dibayar Rp2 juta.

“ Setelah mengundurkan diri, ya saya sudah memastikan dunia hiburan adalah satu-satunya rumah. Toh memang Saya tidak bisa berdagang atau yang lain, ya sudah menjadi MC dan kembali menjadi komedian di televisi. Bahkan satu kali tampil di acara komedi bersama Sule saya diberi honor Rp2 juta per episode, walaupun dibayarnya telat yang penting halal,” terangnya dengan polos Model Cover Boy Majalah Model ini mengatakan, belum ingin terjun ke dunia sinetron. Ia mengaku sedang belajar menulis skenario dan mencoba menjadi sutradara dan bekerja di belakang layar.

“Untuk saat ini saya paling menyanggupi syuting di beberapa stasiun televisi saja sebagai pembawa acara (MC), komedian, dan belum akan terjun ke dunia sinetron,” terangnya. Walaupun sudah tidak menjabat Wakil Bupati, kecintaannya terhadap Garut tidak akan pernah luntur. Ia akan tetap mendedikasikan dan mengabdikan hidupnya untuk kemajuan masyarakat Garut. “Tiap minggu saya akan tetap pulang ke Garut karena di sana saya banyak membina seniman-seniman muda asli Garut agar bisa tampil di kancah nasional,”terangnya.

Suami dari Rani ini pun mengaku, tidak mengambil keuntungan selama menjabat sebagai Wabup Garut. Selama menjabat, dia berusaha memperkecil kepentingan diri sendiri dan bekerja demi kepentingan rakyat. Meskipun selama menjabat, dia berusaha mendorong usaha kecil dan menengah (UKM) Garut.

“Saya tidak punya saham sedikit pun di UKM Garut agar dikenal di dunia luar. Kami bersama keluarga tidak akan malu hidup s ederhana seperti ini walau hanya dengan mobil pinjaman dari saudara saya. Tetap saya akan berkarya dengan profesi yang saya miliki ini (bidang seni),” pungkasnya Diky Candra menegaskan bahwa meski dirinya telah gagal menjalankan perannya sebagai wakil bupati, ia tidak bosan dan meminggalkan para pelaku UKM, nelayan dan seniman yang selama ini telah dibina “Saya sangat berharap masyarakat memaafkan saya. Namun saya tidak akan pernah meninggalkan Garut, dan saya siap mempromosikan semua hasil dan produk usaha UKM seperti Cokdol (Cokelat isi dodol), jas kulit dan pariwisata Garut tanpa menggunakan dana APBD. Melainkan kedekatan dan kesadaran para pengusaha yang ingin mengembangkan Garut,” pungkasnya. (*)

SMAN 7 Lolos Verifikasi

BOGOR–Hari kedua pendaftaran Honda Development Basketball League (DBL) 2012, baru SMAN 7 Bogor yang lolos verifikasi persyaratan untuk menjadi peserta liga basket terbesar di Indonesia itu. Ya, walaupun sudah 10 tim putra dan 3 tim putri yang mendaftar, baru SMAN 7 Bogor yang sudahmelengkapi seluruh persyaratannya. Baik persyaratan tim basket maupun tim dance.

Sekretaris Panitia DBL 2012 West Java Series West Region, Benny Irawan mengatakan, ada dua syarat penting yang harus diperhatikan. Pertama, pemain belum berumur 17 tahun dan ketika bersekolah tidak pernah tidak naik kelas.

Lebih lanjut Benny mengatakan, di hari kedua ini sudah ada 13 tim yang mendaftar. Yakni, 10 tim putra, tiga merupakan tim putri dengan daerah terjauh dari Cianjur dan Cileungsi. Namun baru satu tim yang lolos dalam administrasi, sedangkan yang belum dan kurang persyaratan masih di tunggu panitia hingga akhir pendaftaran.

“Bagi yang ingin mendaftar diusahakan mengurus administrasi yang berhubungan dengan sekolah, karena Minggu depan sudah libur agar tidak menghambat persyaratan,” ungkapnya. Menurut dia, ada sedikit penambahan dalam syarat pendaftaran DBL ini. Yaitu, pelatih basket harus memiliki minimal lisensi C dan jersey terang diwajibkan menggunakan warna putih. Sedangkan warna lain selain putih disebut sebagai warna gelap. ”Aturan itu untuk meningkatkan kualitas pertandingan, sedangkan jersey warna terang putih sesuai peraturan FIBA 2010,” terangnya.

Untuk pendaftaran, terang Benny, berlangsung selama tiga minggu mulai 12-30 Desember 2011. Bagi tim basket yang akan berpartisipasi bisa langsung mendaftarkan diri ke Gedung Graha Pena, Jalan KHR Abdullah bin Nuh, Yasmin No 30. Ia menambahkan, ada 48 tim basket sekolah (28 tim putra dan 20 tim putri) yang bakal bersaing menjadi yang terbaik dalam Honda DBL 2012 West Java Series West Region.

Korban Longsor Tinggal di Posyandu

CIAWI-Salah satu korban longsor di RT 01/03, Kampung Cukanggaleuh, Desa Jambuluwuk, Juli, terpaksa tinggal di Posyandu Rahayu, karena sejak bencana terjadi pada Sabtu (29/10) belum mendapat bantuan dari pemkab.

“Kami sekeluarga terpaksa tinggal di sini, soalnya rumah sudah rata dengan tanah. Tak mungkin jika kita harus terus menginap di rumah tetangga,” ungkap Juli kepada Radar Bogor, kemarin.

Sejak musibah longsor terjadi, kata dia, bantuan yang datang baru dari Kementerian Sosial, PMI maupun dompet duafa. Sedangkan, pemkab belum memberikan apa pun. “Kami hanya menerima bantuan kebutuhan sehari-hari saat longsor saja,” ungkapnya.

Kondisi tersebut diperparah, dengan tak adanya kamar mandi di Posyandu, sehingga membuat Juli dan keluarga terpaksa menggunakan WC umum.

Ia berharap, pemerintah segera memberikan bantuan untuk membangun kembali rumah yang telah hancur. “Kondisi ekonomi kami pas-pasan, jadi tak mungkin kalau harus membangun rumah tanpa dibantu pemerintah,” tukasnya.

Sementara itu, Sekcam Ciawi Pepep Hamdan, mengaku, telah berupaya agar keluarga korban mendapatkan bantuan dengan cara memberikan laporan kepada pemerintah. “Bila keluarga korban belum mendapat bantuan, kami akan laporkan lagi masalah ini kepada pemkab,” tuturnya.

Terpisah, Kasi Pencegahan Bencana, BPBD, Bambang Teguh Prayono mengaku, dana taktis bantuan bencana alam sudah tersedia. Hanya saja, penyalurannya harus menunggu proses kajian. “Setelah dikaji, baru kita serahkan kepada bupati untuk mencairkan bantuan,” singkatnya.

Batasi Perumahan Mewah

CISARUA-Ketua Dewan Pendiri Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi), HM Aris Suwirya mendesak pemerintah untuk memperketat pembangunan perumahan mewah. “Masyarakat kecil, tak mampu membeli rumah dengan harga tinggi,” katanya kepada Radar Bogor, kemarin.

Menurut dia, daya beli warga miskin terus menurun,sedangkan pengembang besar lebih terfokus terhadap pembangunan rumah mewah sementara pengembang kecil maupun menengah tersisihkan.

Ia mendesak, agar pemerintah segera menerbitkan regulasi pengembang perumahan yang berpihak kepada masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) serta membenahi peraturan dan ketentuan perumahan demi terciptanya keadilan.

Ia menambahkan, kebutuhan rumah MBR tahun ini tercatat 13,6 juta unit, sedangkan pengembang besar tak memikirkan rumah sederhana karena untungnya jauh lebih kecil.

Sementara pengembang kecil hanya mampu membangun 300 ribu unit rumah per tahun. Pada umumnya lahan dikuasai pengembang besar yang berakibat menjamurnya lahan tidur tak produktif.(

Kembangkan Sekolah Ramah Lingkungan

CIAWI–Dinas Pendidikan (Disdik) berniat mengembangkan setiap SMPN dan SMAN agar berbasis lingkungan. Itu menyusul masuknya SMPN 1 Cigombong menjadi juara pertama lomba sekolah berbasis lingkungan yang diselenggarakan Kementrian Lingkungan Hidup (KLH).

“Di 2010 kita sukses menerapkan program KLH dengan meraih hasil memuaskan, dimana SMPN 1 Cigombong keluar sebagai juara nasional,” ujar Kadisdik Kabupaten Bogor, Didi Kurnia kepada Radar Bogor.

Adapun penilaian yang dilakukan KLH untuk sekolah berbasis lingkungan atau sekolah adiwinata itu, kata Didi, seperti lingkungan sekolah selalu terjaga, menjaga kebersihan serta keasriaannya. Dia menjelaskan, nanti dalam penerapannya ada pelajaran tambahan, yakni pelajaran ekstrakulikuler di setiap kurikulumnya. “Siswa juga diberikan materi atau mulog tentang pelajaran lingkungan dikurikulum sekolah,” terangnya.

Menurutnya, semenjak program ini diterapkan, Disdik sudah berupaya melakukan sosialisasi kepada semua sekolah. Bahkan, lanjut Didi, sebelumnya di Hotel Safari Garden, Kecamatan Cisarua sebanyak 100 SMPN dan SMAN se Kabupaten Bogor mengikuti kegiatan yang diselengarakan KLH.

“Para kepala sekolah diberikan materi tentang program tersebut, sehingga dalam pelaksanaannya masing-masing sekolah sudah memahaminya,” tandas.