Tampilkan postingan dengan label e. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label e. Tampilkan semua postingan

Subsidi BBM Bengkak Rp30,3 T

JAKARTA–Kebutuhan anggaran subsidi BBM tahun ini membengkak Rp30,3 triliun, yakni dari rencana Rp129,7 triliun di APBN Perubahan 2011 menjadi sekitar Rp160 triliun. Sedangkan subsidi listrik juga bertambah Rp25,4 triliun dari proyeksi Rp65,6 trilun menjadi Rp91 triliun.

Menteri Keuangan, Agus Martowardojo membeberkan data tersebut di kantornya kemarin. Agus menjelaskan, tambahan kebutuhan itu bisa dibayarkan dalam anggaran 2011. Ini berbeda dengan rencana semula yang baru dibayarkan tahun depan.“Kita sudah sepakat tahun ini BBM bersubsidi akan kita bayarkan, yang di APBNP itu direncanakan dipindah ke 2012, akan dibayar di 2011,” kata Agus usai rapat dengan menteri ESDM di kantornya, kemarin.

Dalam APBN 2011, kuota BBM bersubsidi dianggarkan 40,4 juta kiloliter. “Itu termasuk (kuota) 40,4 juta kiloliter dikalikan harga yang ada dan exchange rate yang ada, itu akan kita bayarkan,” kata Menkeu. Asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) diproyeksikan USD 95 per barel. Namun, ratarata harga ICP terealisasi di kisaran USD 111 per barel.

Menteri ESDM, Jero Wacik mengatakan, jebolnya kuota BBM bersubsidi merupakan imbas dari tingginya pertumbuhan ekonomi domestik. “Ternyata pertumbuhan ekonomi kita bagus, tidak begitu kuat antisipasi waktu perencanaan akhir 2010. Jumlah motor saja (bertambah) tujuh juta lho,” kata Jero. Dia mengatakan, perencanaan ke depan harus lebih baik. “Saya tidak ikut perencanaan kemarinkemarin. Saya kira akan jebol juga nanti. Tapi kan nanti akhir tahun kita lihat,” katanya.

Hingga 30 November, realisasi anggaran subsidi Rp200,9 triliun atau sudah 84,7 persen dari target. Subsidi itu terdiri atas BBM Rp110,8 triliun atau 85,4 persen dari jatah yang dialokasikan. Sedangkan subsidi listrik Rp63,8 triliun atau 97,3 persen dari target. Selanjutnya, subsidi nonenergi mencapai Rp26,2 triliun atau 62,6 persen target.

Ketua Badan Anggaran DPR, Melchias Markus Mekeng mengatakan, tambahan subsidi BBM pertama-tama bisa diambilkan dari cadangan risiko fiskal dalam APBNP 2011. Melchias mengatakan, penambahan anggaran subsidi harus dibicarakan dulu dengan Komisi VII (energi) DPR. “Nanti diambil dari cadangan risiko fiskal dan segala macam,” kata Melchias.

Ia mengatakan, Badan Anggaran belum bisa memutuskan besaran subsidi yang bisa dikeluarkan sebelum ada pembicaraan dengan Komisi VII. Harus diputuskan dulu angkanya berapa, pas atau tidak. ”Kemudian perlu diaudit lagi, bener nih kekurangan anggaran (apa) karena kelebihan kuota,” kata Melchias.

Bagi Hasil Migas Fleksibel

JAKARTA–Berbagai strategi menarik investasi sektor minyak dan gas (migas) terus disuarakan. Salah satunya melalui penetapan split atau bagi hasil migas yang fleksibel bagi pemerintah dan investor. Analis Kebijakan Fiskal Perminyakan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), Benny Lubiantara mengatakan, bagi hasil antara pemerintah dan kontraktor kontrak kerjasama (KKKS) mestinya tak dipatok di angka tertentu, namun disesuaikan dengan tingkat keekonomian proyek. “Konsep seperti ini akan meningkatkan daya tarik investasi,” ujarnya, kemarin.

Selama ini, di Indonesia, split untuk produksi minyak bumi antara pemerintah dan kontraktor adalah 85:15 (85 persen untuk pemerintah dan 15 persen kontraktor), sedangkan untuk gas bumi berskala 70:30. Menurut Benny, dengan tren eksplorasi dan eksploitasi migas di kawasan timur dan laut dalam, split yang ditawarkan dengan baku tersebut tidak menarik investor. “Proyek dengan tingkat kesulitan, teknologi dan pembiayaan yang lebih tinggi, bagi hasilnya harus berbeda dengan proyek yang lebih mudah. Artinya, porsi split kontraktor harus ditambah,” katanya.

Ternak Hamster, Reproduksi Cepat dan Mudah Dirawat

BISNIS sampingan ini berawal dari hobinya memelihara binatang mungil tersebut. Setelah beberapa bulan memelihara, Rangga menyadari bahwa proses beranak hamster terbilang cepat. Reproduksi hamster yang cepat membuatnya terpikir untuk membuat peternakan. “Proses kembang biak hamster cepat, dari situlah saya bisa menemukan peluang usaha ini,” kata Rangga.

Dari situ, sambungnya, dia mulai membulatkan keberanian untuk beternak hamster. Dibantu istrinya, Linda Purwati, ia pun memulai usaha tersebut pada 2008. Dari satu jenis hamster, yaitu Campbell, kini Rangga mempunyai enam jenis hamster yang umumnya dijual. Antara lain, Roborovski, Syria, Winter White dan Cina.

Beruntung, istrinya mau membantu mengurusi hamsterhamster tersebut saat Rangga bertugas sebagai PNS di Jakarta. Pada Sabtu dan Minggu, barulah Rangga mengurusi ternaknya tersebut. Untuk jenis Campbell, dia menjual mulai Rp10 ribu. Namun harga bisa ditekan menjadi Rp6.000 per ekor jika memesan minimal 50 ekor. Sedangkan untuk jenis lainnya dijual mulai Rp35 ribu per kilo.

“Pernah ada yang pesan 500 ekor, saya harus minta jangka waktu untuk beberapa minggu sampai pesanan itu tercapai,” paparnya saat ditemui Radar Bogor di rumahnya, Jalan Pangeran Sogiri, Tanahbaru, kemarin. Kini, tak hanya di rumahnya ia melayani pembeli, namun juga membuka cabang di kawasan Parung untuk mengembangkan bisnisnya. Bahkan telah merambah ke pemasar luar kota seperti Semarang. Ia juga mengelola toko online yang diberi nama Deblo Hams.(*)