Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

2012, Bebas Tawuran Pelajar

JAKARTA–Tawuran pelajar yang terjadi setahun terakhir membuat banyak kalangan prihatin. Pasalnya, akibat tawuran itu, masyarakat menjadi terganggu. Para siswa juga banyak yang menjadi korban.

Pusat Pengendalian Gangguan Sosial DKI Jakarta mencatat, pelajar yang terlibat tawuran sekitar 1.369 orang atau 0,08 persen dari total jumlah siswa 1.685.084 orang.

Korban tewas akibat tawuran sejak 1999 hingga saat ini mencapai 27 orang. Ini belum termasuk yang luka berat dan ringan. Secara sosial, tawuran juga telah meresahkan masyarakat, dan secara material, banyak fasilitas umum yang rusak, seperti dalam kasus pembakaran atau pelemparan bus umum.

“Tahun 2012, Jakarta harus bersih dari tawuran pelajar,” harap Sekjen KPAI, Arist Merdeka Sirait dalam dialog interaktif tentang tawuran bertempat di SMK 57, Jalan Raya Ragunan, Jakarta Selatan, Rabu (21/12).

Dialog dengan tema “Bersihkan DKI Jakarta dari Tawuran Pelajar” itu juga menghadirkan pembicara Kepala Dinas Pendidikan DKI Taufik Yudi Mulyanto, anggota Komisi E DPRD Wanda Hamidah dan Kasat Binmas Polres Metro Jakarta Selatan AKBP Triastuti.

Menurut Arist, untuk mencegah tawuran, peran orangtua sangat penting. Proses pendidikan dengan orangtua di rumah harus menyatu. “Orangtua harus memberikan nilai-nilai dan perilaku yang baik kepada anaknya,” katanya.

Budi pekerti juga harus ditanamkan kepada seluruh pelajar. Sehingga pelajar bisa menerima perbedaan pendapat. Menurut Kasat Binmas Polres Metro Jakarta Selatan AKBP Triastuti, untuk mengantisipasi tawuran, di sejumlah tempat rawan pada jam-jam tertentu ditempatkan petugas.

”Guna meminimalisasi terjadinya aksi tawuran pelajar, dapat dilakukan informasi lebih dini dengan memberitahukan kepada polisi. Melalui pesan singkat bisa dikirim ke 1717,” terangnya.

Menurut pelajar SMK Karya Guna, Daniel, untuk mencegah tawuran pelajar, razia harus digiatkan ke seluruh sekolah di Jakarta. Karena peredaran narkoba dan senjata tajam, sangat marak di kalangan pelajar.

SMA Kosgoro Bagi Rapor Lebih Cepat

Nilai yang dicapai siswa, baik kelas X, XI maupun kelas XII sangat penting untuk melanjutkan ke perguruan tinggi jalur PMDK atau seleksi rapor, dan juga untuk kenaikan kelas. Sebab, perhitungan nilai akhir menjadi penentu kelulusan,”


BOGOR–Menerima laporan hasil belajar selama satu semester merupakan saat yang ditunggu-tunggu siswa. SMA Kosgoro pun meresponsnya dengan membagikan rapor lebih cepat, kemarin. Setelah menempuh kegiatan belajar antara lain ulangan harian dan tugas-tugas, ulangan tengah semester (UTS) dan ulangan akhir semester (UAS) selama semester ganjil, kinilah saatnya bagi para siswa untuk melihat hasilnya.

Hampir semua orangtua atau wali yang mendampingi siswa hadir dalah kesempatan itu. Kepala SMA Kosgoro, Tri Atmojo mengatakan, alasan pembagian rapor lebih cepat dari sekolah lain (Jumat, 23/12) hari ini, disebabkan pada 23 dan 24 Desember para guru akan mengikuti workshop KTSP untuk mempersiapkan KBM pada semester dua mendatang.

“Nilai yang dicapai siswa, baik kelas X, XI maupun kelas XII sangat penting untuk melanjutkan ke perguruan tinggi jalur PMDK atau seleksi rapor, dan juga untuk kenaikan kelas. Sebab, perhitungan nilai akhir menjadi penentu kelulusan,” ujarnya.

Menurut Tri, laporan hasil belajar (LHB) atau dikenal dengan buku rapor akan menggambarkan pencapaian kompetensi peserta didik di semua mata pelajaran. “Meski demikian, rapor tak dapat mewakili diri siswa secara untuh,” imbuhnya.

Kompetensi tersebut, sambungnya, mencakup sikap, pengetahuan dan psikomotor. Untuk itu, orangtua diharapkan tak hanya melihat nilai kognitif, tapi juga meninjau hasil kompetensi lainnya. Orangtua harus melihat catatan prestasi yang telah dicapai dalam pengembangan diri, seperti dalam ekstrakurikuler, keikutsertaan dalam organisasi sekolah, juga catatan khusus lainnya.

“Akhlak mulia dan kepribadian yang berisi kedisiplinan, kebersihan, kesehatan, tanggung jawab, sopan santun dan lain-lain juga agar menjadi perhatian orangtua,” pungkasnya.

Persembahkan Ratusan Buku untuk Anak Pinggiran

BOGOR–Kegembiraan terpancar pada wajah anak-anak warga Desa Nagrakciangsana, Kecamatan Gunungputri, Kabupaten Bogor, Rabu (21/12). Sembari bermain di saung, mereka bisa menikmati ratusan buku bacaan secara gratis.

Bentuk bangunan didesain dari bambu yang bernuansa lingkungan desa. Buku tersebut merupakan sumbangan dari Center for Entrepreneurship Change and Third Sector (CET) Universitas Trisakti.

Selain itu, program tersebut menjaring 35 warga desa untuk mengelola 70 ekor domba. Penggemukan domba dilakukan untuk membantu masyarakat di desa tersebut.

Kegiatan mulai dilakukan sejak November 2011 dan merupakan bagian dari program Artajasa Toward Sustainable Company. “Program ini akan menjadi pilot project untuk mendukung ekonomi masyarakat,” kata Rektor Universitas Trisakti, Thoby Mutis.

Lewat bantuan itu, warga desa khususnya anak-anak dapat menikmati fasilitas penyedian buku gratis. Mengingat di pinggiran Kota Jakarta, untuk mendapatkan buku bacaan gratis masih banyak yang mengalami kesulitan.

Latar belakang kemiskinan pun membuat anak-anak sulit menikmati buku bacaan. “Diharapkan program akan berlanjut untuk memajukan desa,” jelasnya.

Himpaudi Manjakan Siswa Semarakkan Hari Ibu

HARI IBU: Peserta lomba, foto bersama usai menyemarakkan Hari Ibu, kemarin.
RUMPIN–Peringatan Hari Ibu yang jatuh pada 22 Desember kemarin, dimanfaatkan kader penggerak PKK untuk menyosialisasikan keberadaan rumah pintar di Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor.

Sekitar 300 anak usia dini yang didampingi orangtuanya, memeriahkan lomba mewarnai dan fashion show yang diselengarakan tim PKK Kecamatan Rumpin bekerjasama dengan Himpaudi.

Ketua Tim Penggerak PKK, Atty Ruhiyati mengatakan, peringatan Hari Ibu merupakan momentum untuk menggugah peran ibu dalam kehidupan keluarga. Menurut dia, sosok ibu yang baik dan cerdas merupakan teladan bagi anak-anak dalam keluarga.

“Untuk itu, dengan keberadaan rumah pintar ini, kita berharap bukan hanya anak-anak yang belajar, tapi juga orangtua, khususnya ibu,” katanya. Keberadaan rumah pintar di Rumpin, lanjutnya, bersumber dari bantuan Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB) melalui Kemendikbud.

Bantuan Rp200 juta dalam bentuk gedung, enam perangkat komputer, tiga unit mesin jahit dan dua ribu judul buku bacaan, sangatlah membantu. Rencananya dalam waktu dekat, rumah pintar diresmikan salah satu anggota SIKIB dan staf Kemendikbud dan Kabupaten Bogor.

“Kader-kader PKK yang mengurus ini sudah menyusun beberapa program, di antaranya kursus komputer, bahasa Inggris, memasak dan menjahit untuk ibu-ibu agar pintar,” katanya.

Atty menambahkan, dengan meningkatnya kualitas para ibu, harapan untuk mewujudkan pendidikan berkarakter akan lebih mudah. Karena, peran ibu sangat vital dalam mendidik anak-anaknya di rumah.

“Jangan sampai, dengan kemajuan teknologi saat ini, orangtua kecolongan oleh konten informasi di televisi maupun handphone yang negatif. Kalau ibu-ibunya mau terus belajar, perilaku negatif yang seringmeresahkan di masyarakat bisa dicegah,” katanya.

Daerah Harus Anggarkan 20 Persen Untuk Mendukung Dana BOS

JAKARTA–Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Mohammad Nuh mengatakan, pemerintah kabupaten/kota wajib menyalurkan anggaran bantuan operasional sekolah daerah (BOSDA) meskipun BOS sudah ditanggung seratus persen oleh pusat.

Menurut dia, BOSDA merupakan suatu hal yang wajib dilakukan daerah guna meningkatkan pendidikan di daerahnya masing-masing. “Yang harus didorong sekarang adalah penyaluran BOSDA 20 persen. Utamakan untuk pendidikan dasar, karena itu sudah diwajibkan,” kata Nuh di Jakarta, Minggu (18/12). Nuh mengakui, hingga kini hanya sekitar 18 persen daerah dari 497 kabupaten/kota yang sudah menyalurkan BOSDA.

“Oke lah kalau daerah berpikir BOSDA itu bukan kewajiban mereka. Tapi, kalau ditanya balik, siapa yang mengurus pendidikan dasar? Yang punya sekolah di daerah itu siapa? Kok malah bilangtidak wajib?” tukasnya.

Nuh menjelaskan, dalam UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Daerah (Sisdiknas) juga sudah ditekankan bahwa daerah berkewajiban menyalurkan BOSDA. Hanya, lanjutnya, daerah cenderung tak mengindahkan aturan itu dan berpikir hanya pemerintah pusat yang bertugas menyalurkan BOS.

“Oleh karena itu, semangat daerah untuk menyalurkan BOSDA harus didorong. Bagaimanapun, keuntungannya juga mereka yang akan merasakan. Selain sudah ada BOS, lalu ditambah BOSDA, maka akan tambah mulia,” serunya.

Ribuan Guru Ikut Jalan Sehat

BOGOR–Sebanyak 4.700 guru yang tergabung dalam Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Bogor turun ke kampung, Sabtu (17/12). Mereka sengaja meliburkan anak didiknya untuk mengikuti gerak jalan sehat Guruhawan 2011 dalam rangkaian memperingati Hari Ulang Tahun ke-66 PGRI dan Hari Guru Nasional ke-17 Tingkat Kota Bogor.

Gerak jalan mengambil start di Stadion Sahara Pajajaran HO Toyib, Kelurahan Cimahpar, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, dan finis di tempat semula. Adapun jarak yang ditempuh adalah 5 km dalam waktu dua jam. Dengan rute melewati SDN Cimahpar I, SDN Ciluar I, Gang Satria, Jalan Raya Bubulak dan Jalan Raya Sukaraja.

Pelepasan gerak jalan dilakukan Walikota Bogor Diani Budiarto didampingi Ketua PGRI Basuki, Kepala Dinas Pendidikan Fetty Qondarsyah, Kepala Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) Aim Halim Hermana dan Asisten Tata Praja Kota Bogor Ade Syarif Hidayat.

Panitia penyelenggara, Bagus TJ mengatakan, kegiatan ini bertujuan mempererat silaturahmi antarguru se-Kota Bogor, meningkatkan solidaritas dan diharapkan lebih meningkatkan kinerja para guru. Sementara itu, Ketua PGRI Kota Bogor, Basuki menyampaikan apresiasinya kepada para guru yang telah meluangkan waktu dalam gerak jalan tersebut.

“Ini sangat luar biasa karena ada 4.700 peserta yang terdiri atas Guru SD, SMP/MTs, SMA/SMK dan instansi terkait,” ujarnya. “Sambil ngobrol dalam perjalanan, bisa saling menyampaikan informasi di sekolah masing-masing dan menunjukkan komitmen bahwa PGRI adalah organisasinya,“ terang dia.

Di lokasi finis, peserta mendapatkan doorprize, mulai satu unit sepeda motor Yamaha Mio dan puluhan hadiah hiburan lainnya. Seperti Mimi Rukmini, guru kelas III SDN Sukasari III Kecamatan Bogor Timur yang mendapat hadiah utama Motor Yamaha Mio. Mimi mengaku tidak menduga bakal mendapatkan hadiah utama tersebut. “Saya tidak menyangka,” ujarnya usai diumumkan sebagai pemenang.

Armada 17 IPB Berikan Beasiswa

BOGOR–Rangkaian kegiatan sosial seperti tanam pohon dan pemberian beasiswa dalam rangka Reuni Alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) berakhir pada Sabtu (17/12) di Gedung IPB Convention Center, Bogor.

Alumnus IPB dari berbagai kelompok yang tergabung dalam Armada 17, tampak larut dalam suasana ceria dan haru karena bisa bertemu kembali dengan teman-teman semasa kuliah. Bahkan, ada beberapa alumni IPB yang kini sudah menjadi pejabat publik, salah satunya Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail.

Rektor IPB Herry Suhardiyanto dalam sambutannya mengaku bangga dengan komitmen alumni IPB yang terus berkiprah di bidang sosial dan pendidikan. Ini merupakan satu bukti bahwa alumnus IPB yang tersebar di beberapa wilayah, tetap loyal memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Sebab di mana pun di dunia, tegasnya, tak akan ada kampus yang eksis jika tidak ditopang kiprah nyataalumninya.

“Sangat membanggakan bagi almamater dan IPB secara khusus,” jelas Herry, yang sangat menyayangkan tak bisa hadir lebih lama karena akan menghadiri pertemuan para rektor di Palembang. Di samping itu, gerakan menanam pohon dan pemberian beasiswa bagi mahasiswa, menurut Herry, merupakan bukti bahwa alumni IPB tidak egois terhadap lingkungan. Apalagi selama ini mahasiswa IPB harus selalu dituntut memiliki tiga modal dasar untuk mengabdi kepada masyarakat dan peduli terhadap lingkungan.

“Saya juga meminta alumnus untuk mengawal massa transisi dunia pendidikan dengan bersikap kritis dan konstruktif,” tandasnya. Hal senada dijelaskan Ketua Panitia Reuni Armada 17, Aruhito. Selain sebagai ajang silaturahmi dan bernostalgia, juga membangun persahabatan dan jejaring yang abadi serta menumbuhkan sikap peduli. “Alumni IPB ingin memberikan ikhtiar-ikhtiar kecil untuk kebersamaan dalam memajukan dunia pendidikan,” tukasnya.

Sementara itu, salah seorang alumni IPB yang kini menjadi Walikota Depok, Nur Mahmudi Ismail mengatakan, selain ajang nostalgia, reuni yang diisi dengan kegiatan sosial sangat bermakna bagi nilai-nilai kebersamaan. Sekecil apa pun langkah yang ditanamkan, paparnya, tentu sangat berarti bagi hari ini dan masa mendatang. “Di mana pun berada, alumni IPB harus mampu memberikan nilai positif bagi tumbuh kembang kebersamaan demi kehidupan yang lebih baik,” pungkasnya.

Sekadar diketahui, 10 Desember lalu alumnus IPB telah melakukan aksi tanam pohon sebanyak 1.717. Adapun dalam acara puncak, diserahkan beasiswa bagi mahasiswa yang kurang mampu senilau Rp171.717.000, yang diserahkan secara simbolis kepada Rektor IPB Herry Suhardiyanto, dari ketua panitia reuni, Aruhito.

Wisuda STAI Al Aulia Bogor Tahun akademik 2011/2012 Lulusannya Harus Mampu Bersaing

WISUDA: Ratusan Wisudawan saat mendengarkan pidato Senat STAI Al Aulia Sabtu (17/12) lalu.
Sebanyak 140 mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Aulia Cibungbulang Kabupaten Bogor, mengikuti prosesi wisuda, Sabtu (17/12) lalu. Ratusan wisudawan program studi Syariah dan Pendidikan Agama Islam itu terlihat sumringah, saat dipanggil satu persatu ke podium.


Acara berlangsung di lapangan serbaguna kampus, Jalan KH Abdul Hamid, Desa Situilir, Kecamatan Cibungbulang. Sayang, rencana Bupati Bogor Rachmat Yasin untuk hadir ternyata batal karena adahal mendesak yang tak bisa ditunda.

Dalam kesempatan itu, Koordinator Kopertis Wilayah II Jawa Barat, Rahmat Rosyadi memaparkan, empat juta pengangguran terdidik berasal dari perguruan tinggi saat ini. “Itu berdasarkan data Lembaga Penelitian Indonesia (LIPI) 2011. Angka itu sangat mengkhawatirkan karena banyak sarjana berpikira n menjadi seorang pegawai negeri sipil (PNS),” ujarnya.

Rahmat meminta agar alumni STAI Al Aulia bukan hanya bekerja, namun mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain. Sebab, di era persaingan sekarang ini, yang dibutuhkan adalah keterampilan. “Saya yakin kalau Anda semua mampu membuktikan jika lulusan STAI mampu bersaing dengan negeri, bahkan mengunggulinya,” bebernya.

Sementara itu, Kepala STAI Al-Aulia, Komarudin Adnawi menambahkan, untuk mendukung kegiatan belajar mengajar telah dilengkapi berbagai fasilitas. Seperti, perpustakaan, laboratorium komputer hingga micro teaching. Semua itu disediakan untuk meningkatkan performa dalammengajar atau latihan mengelola interaksi. Dia berharap, Al-Aulia menjadi pusat kegiatan pencerdasan dan peningkatan taraf hidup umat Islam.

Selain itu, menjadi pusat kegiatan pendidikan dan pengaderan Islam. Dalam artian, Al-Aulia melalui seluruh unit dan jenjang pendidikannya harus dapat melahirkan lulusan-lulusan terbaik, serta memiliki mentalitas dan moralitas luhur Islam sebagaimana ajaran Muhammad SAW. “Harus bisa mengangkat harkat dan martabat hidup umat Islam, khususnya masyarakat sekitar,” pungkasnya.

Kodam Jaya Tunjuk SMAN 1 Buka Rekrutmen Calon Taruna

BOGOR–Perekrutan calon taruna Akademi Militer (Akmil) kini bisa dilakukan melalui sekolah. Tujuannya, mem beri kan sosialisasi sekaligus in for masi mengenai penerimaan calon prajurit TNI AD.

SMAN 1 Bogor beruntung karena termasuk satu dari dua sekolah se-Jabodetabek yang dipilih Komando Daerah Militer (Kodam) Jaya untuk menjadi lokasi rekrutmen bagi siswa kelas XII yang ingin menjadi tentara. Sedangkan satu sekolah lainnya adalah SMAN 8 Jakarta.

Menurut Kepala Ajudan Jenderal Kodam (Anjendam) Jaya, Kolonel Kowad CAJ Elmi, tujuan mereka ke sekolah yakni memberikan pemahaman kepada pelajar mengenai seluk-beluk TNI AD. “Selama ini banyak yang tidak mengetahui seperti apa pendidikan militer di Akmil,” ujarnya kepada Radar Bogor, Selasa (13/12). Elmi mengatakan, selain memberikan sosialisasi, Kodam Jaya menerima langsung siswa SMAN 1 yang berminat mengikuti taruna Akmil.

Pendaftaran telah dibuka sejak 13 Desember 2011 dan berakhir 20 Januari 2012. “Formulir pendaftaran telah disebar dan siswa bisa berkonsultasi dulu dengan orangtua sebelum menyerahkan kembali kepada pihak sekolah,” jelasnya.

Wanita yang mengawali kariernya sebagai Guru Militer (Gumil) pada Akmil itu menambahkan, pihaknya memiliki persyaratan khusus bagi calon taruna. Antara lain tinggi badan, tidak bertato, belum menikah serta harus lulusan IPA.

“Diharapkan dari SMAN 1 akan lahir calon pemimpin bangsa yang mampu menjaga keutuhan negara. Apalagi, dipilihnya sekolah ini karena telah menghasilkan ribuan siswa berprestasi,” tandasnya. Terpilihnya SMAN 1 oleh Kodam Jaya menimbulkan kebanggaan bagi seluruh warga sekolah. Tak terkecuali Kepala SMAN 1 Bogor, Agus Suherman yang mengaku senang dengan hal tersebut.

“Kita tentu saja mendukung dan memberikan semangat kepada siswa yang berminat mendaftarkan diri menjadi tentara. Apalagi, banyak alumni SMAN 1 yang berkarier di kemiliteran,” pungkasnya.

Ajari Siswa Berhemat Listrik

PLN Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang mengajarkan para siswa berhemat listrik sejak usia dini. Manajer Bidang Distribusi UPT PLN Jakarta Raya dan Tangerang, Paranai Suhasfan, dalam kunjungannya ke SD Muhammadiyah V, Kebayoran Baru, Jaksel mengatakan, kunjungan ini merupakan kelanjutan program pendidikan character building (pembentukan karakter).


“SEBELUMNYA para siswa SD Muhammadiyah V kita ajak ke pusat pembangkit listrik Suralaya untuk melihat seperti apa dan bagaimana listrik itu dibuat. Ternyata listrik itu dibuat dengan rumit, sulit dan mahal,” paparnya.

Untuk itu, katanya, PLN mengajarkan kepada mereka untuk selalu menghemat listrik. “Berhemat bukan berarti pelit. Artinya, jangan sampai pemakaian listrik sia-sia. Misalnya, kalau nggak ditonton, TV harus dimatikan, lampu yang tidak dipakai juga dimatikan. Seperti itu,” cetusnya.

Mengapa harus kepada siswa SD? Pria berkacamata ini menjelaskan, usia dini (SD) lebih mudah dibentuk pola pikirnya. “Jadi, character building sejak usia dini itu lebih mudah,” tandasnya.

Paranai menambahkan, apa yang dilakukan di SD Muhammadiyah V ini diharapkan dapat menjadi contoh atau pelopor untuk ditularkan ke sekolah lain. Kepala SD Muhammadiyah V, Said Matondang mengatakan, character building tersebut merupakan harapan pemerintah.

“Karena pemerintah ingin pendidikan itu ya yang berbudaya dan berkarakter. Contohnya hemat energi listrik, ini dapat membangun karakter siswa,” ucapnya. Dalam kesempatan itu pula, ditandatangani prasasti Program Pejabat Peduli Pendidikan (P4) yang berbasis oleh Paranai dan disaksikan kepala sekolah dan pengajar serta siswa-siswi.

Pun diberikan sertifikat serta cenderamata dari kedua pihak. Diharapkan, ke depan, para pejabat pemerintah bisa andil dalam menyukseskan program ini.

Said berharap, para siswa diharapkan mempunyai karakter sebagaimana yang telah disebutkan pemerintah tentang kurikulum pendidikan yang terbaru, yang tujuannya adalah membentuk character building. Di antaranya, religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat atau komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan dan sosial serta tanggung jawab.

Ditanya soal stok listrik di Jakarta dan Tangerang, Paranai menjelaskan, pihaknya selalu melayani pelanggan dengan baik. “Pada 2011 ini kita membuat seribu KM kabel dengan banyak travo dan 2012 akan diperkecil listrik padam. Kalau sekarang listrik padam tiga jam per pelanggan per tahun, untuk tahun depan kita perkecil sampai 50 persen lebih rendah,” terangnya.

Mengenai pasang listrik gratis di DKI dan Tangerang, Paranai mengungkapkan akan berlangsung sampai akhir Desember ini dan tidak menutup kemungkinan diperpanjang jika animo masyarakat sangat tinggi. “Atau ada program lain selanjutnya,” tegasnya.

Dua Kelas SDN Gadog Ambrol

TANGERANG–Dua ruang kelas SDN Gadog di Kampung Gadog, Desa Kutruk, Kecamatan Mekar, Kabupaten Tangerang, Rabu (14/12) pagi, ambruk. Beruntung, ambruknya atap kelas itu terjadi saat proses belajar belum dimulai. Bangunan bekas SD Inpres itu roboh akibat diterjang hujan disertai angin kencang.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Tangerang, Bambang Mardi mengatakan, bangunan SDN yang ambruk itu memang sudah tak layak lagi digunakan lantaran dibangun pada 80-an. ”Kemungkinan robohnya dua ruang kelas SDN Gadog akibat diterjang angin kencang,” terangnya, kemarin.

Dia juga mengatakan, tak semua bangunan ambruk, melainkan bagian atapnya saja. Akibatnya, menyisakan kusen-kusen penyangga serta dinding sekolah yang memang sudah rapuh. ”Sebenarnya empat kelas SDN Gadog sudah sangat tua, dan direncanakan akan direnovasi pada 2012 dengan anggaran Rp900 juta,” cetus Bambang lagi.

Ambruknya atap dua kelas itu membuat siswa harus belajar dua shift. Bila selama ini 350 siswa sekolah itu belajar pagi, dengan ambruknya dua gedung kelas, siswa belajar shift pagi dan siang. ”Bila tidak memungkinkan juga, ratusan siswa itu dititipkan ke sekolah lain,” ungkapnya lagi.

Namun, karena sekolah ini lokasinya berjauhan dengan sekolah lain, maka akan dioptimalkan menggunakan ruang kelas yang masih ada dan layak digunakan. ”Kami perkirakan renovasi empat kelas itu akan selesai pertengahan 2012 nanti. Proses pembangunan kami usahakan secepatnya,” ungkapnya.

Sementara itu, Budi, salah satu orangtua murid berharap agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang secepatnya membangun ruang kelas yang yang ambruk di sekolah anaknya. ”Kami bersyukur tak ada korban dalam ambruknya dua kelas ini. Tapi kami minta renovasi segera dilakukan. Karena kasihan siswa bila harus sekolah pagi dan siang,” tandasnya.

XL Jagoan Muda Manggung di SMPN 4

JAGOAN MUDA: Salah satu grup band ikut menghibur siswa-siswi di halaman SMPN 4, kemarin.
BOGOR–Sukses menggelar XL Jagoan Muda Manggung Bareng Idola di Jakarta, Bekasi dan Karawang, PT XL Axiata Tbk (XL) menampilkan Pee Wee Gaskin pada acara Kibar Kreasi yang diselenggarakan OSIS SMAN 4 Bogor dan SMA PGRI 1 Bogor, kemarin.

Regional Sales Operational Manager (RSOM) XL, G Kusbaroto mengatakan, acara ini merupakan apresiasi terhadap sekolah-sekolah yang mendapat jumlah vote atau perolehan suara terbanyak.

“Kami menyaring berdasarkan vote melalui SMS. Sekolah peraih perolehan suara terbanyak akan kami datangi dan mereka berhak menggelar manggung bareng idola,” kata pria yang akrab disapa Toto ini, di sela-sela acara di SMAN 4, kemarin.

Untuk bintang tamu, XL memberikan tiga penawaran, yaitu Pee Wee Gaskins, Last Child dan Killing Me Inside. Setelah berunding, panitia sepakat mengundang Pee Wee Gaskins. Banyak juga band-band dari SMAN 4 dan SMA PGRI 1 yang unjuk kebolehan. Mereka mengaransemen jingle Xl dengan gaya dan kemampuan musikalitas masing-masing.

Wakil Kepala Kesiswaan SMAN 4 Bogor, Dedeh Rohayati mengatakan, pihak sekolah sangat mendukung terlaksananya kegiatan itu. Selain untuk menghibur, even tersebut juga dapat menumbuhkan bakat seni siswa.

“Dengan mencoba menciptakan kreasi dari lagu, minat siswa untuk mencintai seni semakin tumbuh,” paparnya. Acara ini juga merupakan ajang silaturahmi dan kerjasama antarsekolah, karena menggabungkan OSIS dua sekolah menjadi panitia, yaitu OSIS SMAN 4 Bogor dan SMA PGRI 1 Bogor.

Membuka Lembaran Ranjang Baru Bahagia di Pernikahan Kedua

Merasa trauma menikah lagi setelah bercerai memang wajar. Tak bisa dipungkiri, tidak mudah memulai untuk kedua kali.
Apalagi saat menjalani pernikahan sebelumnya, Anda merasa seperti di dalam ‘neraka’.

Tapi, menurut Barbara De Angelis, PhD, pakar perkawinan dari Los Angeles, AS, tidak sulit pula meraih peluang kebahagiaan di perkawinan. Yang penting, antisipasi tantangan yang dihadapi di pernikahan Anda selanjutnya.

Umumnya, wanita bercerai karena apa yang didapatnya dari perkawinan tidak sesuai dengan harapannya semula. Bila harapan tak jelas, maka peluang untuk merasa salah pilih atau kecewa lagi pada perkawinan kedua menjadi sangat besar. Nah, sebelum bersanding di pelaminan kedua kalinya, apa saja yang harus dipertimbangkan?

BICARAKAN ANAK DARI AWAL

Mencari pengganti ayah bagi anak, tak dapat dijadikan alasan untuk menikah lagi oleh wanita bercerai. Soalnya, istilah mantan suami itu ada, tapi istilah mantan ayah tak ada.

Mungkin bila suami pertama sudah tiada, masalah anak tidak akan begitu rumit bagi perkawinan kedua. Tapi situasinya beda bila ayah si anak masih hidup. Misalnya, meski sudah merelakan hak perwalian pada sang ibu, ayahnya masih ingin menggunakan haknya untuk bertemu rutin dengan anaknya.

Sebelum muncul masalah, sebaiknya bicarakan dari awal semua hal tentang anak, mulai soal-soal sekarang sampai yang akan datang.

Tidak hanya soal yang di depan mata, seperti jadwal pertemuan dengan si ayah atau si ibu kandung, tapi juga soal yang akan datang. Misalnya, yang menyangkut perwalian bila si anak akan menikah (bila si anak adalah perempuan).

Meski waktunya masih panjang, dalam hal ini, sebaiknya tidak membuka kemungkinan yang tidak menguntungkan untuk semua pihak kelak.

MANTAN: BERI BATASAN

Untuk mengatasi sandungan dengan mantan, Anda dan calon suami harus bisa bersikap terbuka.

Jangan ragukan dia. Jangan sembunyikan apa pun darinya. Mulai soal anak, uang, peran Anda dalam keluarga, sampai soal yang menyangkut mantan suami Anda sendiri Agar mantan tidak terlalu mencampuri perkawinan kedua Anda, beri batasan tegas padanya.

Ungkapkan bahwa hanya urusan anak yang masih bisa didiskusikan dengannya. Jangan sampai mantan ‘meracuni’ pernikahan Anda.

BERBAGI HARAPAN

Bagi mereka yang sudah memasuki perkawinan kedua, Barbara berpesan agar tidak memancang harapan terlalu tinggi.

Sadarilah Anda berdua sudah bekerja keras untuk sampai pada perkawinan kedua. Maka, sebelum berharap dapat ‘mendaki gunung’, cobalah rehat sejenak untuk merasakan nyamannya berdua lagi, dengan berjalan pelan-pelan dulu. Sedangkan adanya ketakutan dan kecemasan gagal lagi, wajar-wajar saja asalkan proporsional.

Selain itu, cobalah berbagi harapan dengan calon suami. Plus, ungkapkan padanya cara Anda menghadapi masalah. Dengan begitu, dia bisa mengenal Anda lebih dalam, atau malah Anda berdua menemukan aturan baru dalam menangani konflik di masa depan.

Membuka Lembaran Ranjang Baru (Semestinya) Lebih Pede

Pernikaha Kedua
Selama menikah, rasanya, tidak terbayang berbagi peluk, cium dan kasih bersama laki-laki lain. Terutama di tempat tidur. Tetapi, bagaimana jika pernikahan itu kandas?

BUKAN perkara mudah membuka diri pada cinta baru setelah pernikahan kandas. Rasa sakit dan penolakan yang dirasakan selama proses perceraian membuat perempuan sulit percaya pada laki-laki. Apalagi untuk melangkah lebih serius ke urusan pemenuhan kebutuhan seksual bersama cinta baru.

Tidak bisa dipungkiri, ketika mencari pasangan baru, divorcee memikirkan seks sebagai salah satu aspek yang perlu dipertimbangkan.

Sulitnya, biasanya, persepsi dan standar tentang aktivitas romantis tersebut terbentuk bersama suami terdahulu. Tubuh juga terbiasa dengan stimulasi tertentu. Akibatnya, perempuan tidak membayangkan harus melakukan hubungan intim dengan orang lain.

Laura Berman PhD, psikoterapis, menyatakan bahwa wajar kalau perempuan belum berani membuka lembaran baru dalam hal seksual. Bahkan, dia tidak menyarankan perempuan melangkah ke fase tersebut meski menemukan kekasih baru.

Seks dengan laki-laki baru yang tidak ditahui prospek masa depannya hanya akan berakibat buruk pada kondisi psikologi.

”Sebelum memutuskan apa pun bersama kekasih baru, lebih baik kita menengok ke belakang dan mengevaluasi apa yang salah dari pernikahan,” kata Berman. ”Jika tidak berhati-hati, Anda bisa terjebak pada situasi emosional yang kacau.

Hubungan intim hanya akan memperparah kondisi itu dan hanya akan menambah luka yang belum sembuh,” imbuhnya. Jadi, menurut Berman, yang paling baik adalah menahan kebutuhan seksual sedikit lebih lama hingga benar-benar menemukan laki-laki yang tepat.

Selain bisa memenuhi kebutuhan emosional saat ini, seks memiliki prospek masa depan. Pastikan bahwa hubungan benar-benar aman, stabil dan nyaman untuk dibawa ke jenjang yang lebih serius, seperti pernikahan.

Bagi yang belum ingin menjalin tali pernikahan lagi, ada berbagai cara untuk mengeksplorasi sensualitas bersama kekasih baru. Kegiatan tersebut tak selalu menjurus ke arah hubungan badan.

”Seks lebih dari sebatas kegiatan intercourse. Seks adalah bagaimana kita merasa seksi, merasa seksual, percaya diri, vibran dan dinamis bersama seseorang yang kita sayangi,” papar Ian Kerner PhD, terapis seks.

Berkencan di pantai, memandang matahari terbenam yang indah, berdansa diiringi musik romantis, memasak dinner bersama, atau berjalan bergandengan tangan bisa menjadi kegiatan romantis yang sangat sensual.

Itu cukup mengindikasikan bahwa perempuan menginginkan sang pasangan secara seksual, namun tidak bisa mewujudkannya dalam waktu dekat. Jika kebersamaan tersebut berakhir di pelaminan, tentu hubungan badan akan terjadi secara alami. Tetapi, problem tidak lantas teratasi.

”Secara emosional, pasangan baru bisa merasa seperti anak remaja lagi. Bercinta dengan orang lain setelah menikah beberapa tahun memang terasa aneh dan canggung. Itu wajar,” ungkap Susan Pease Gadoua, terapis seks lainnya.

Nah, bagian sulitnya, kita tidak boleh terbawa emosi tersebut. Istri harus segera menyadari bahwa dirinya bukan anak muda yang tidak tahu apa-apa lagi.

Dari segi fisik, mungkin, ada sedikit penurunan jika dibandingkan dengan sepuluh tahun lalu. Namun, dari teknik dan pengalaman bercinta, semestinya, istri lebih matang. Itu bisa menjadi bekal untuk memupuk kepercayaan diri.

Ketika bersama suami baru, istri perlu menghapus memori percintaan sebelumnya. Termasuk melepas kebiasaan lama. Jangan pula berharap bahwa suami baru tersebut melakukan hal-hal yang sama seperti suami sebelumnya. ”Memori dengan suami sebelumnya hanya akan membuat tubuh sulit beradaptasi dengan pasangan baru,” jelas Gadoua.

Salah satu cara efektif membuka lembaran baru adalah menyiapkan malam romantis yang ekstrahati-hati. Sebisa mungkin, segala hal didesain agar berbeda dari pengalaman bersama pasangan yang lalu. Kenakan lingerie yang berbeda, tatanan rambut yang berbeda, serta wewangian dan warna lilin yang berbeda.

Mungkin, itu hal yang simpel, tapi cukup menyajikan suasana malam romantis yang sama sekali berbeda dari sebelumnya. ”Mungkin, rasanya seperti melakukannya untuk kali pertama.

Tetapi, ini lebih istimewa karena Anda lebih dewasa dan punya pengalaman soal seks,” papar Gadoua. ”Anda tahu apa yang harus dilakukan. Anda tahu apayang nyaman buat Anda. Anda tahu caramenyenangkan pasangan. So, semestinya, istri tidak perlu gugup,” imbuhnya.

Perempuan Penggemar Robotika Bikin Robot seperti Makan

TERTANTANG: Karena rumit itulah, Nita penasaran dan ingin terus belajar demi menghasilkan robot yang lebih canggih.
Jika mendengar kata robotika, yang sering terbayang adalah perhitungan elektronika rumit serta nuansa maskulin. Meski lekat dengan kaum lelaki, bidang robotika tak membuat cewek-cewek kelas X SMAN 1 Sidoarjo ini mundur. Mereka justru menyukainya.

HOBI mengutak-atik barang elektronik membuat Titi Bunita Dyana Kumara (Tita), Yunita Surya Pratiwi (Nita) dan Bara Pramita Watshi Kencana (Bara) tertarik mempelajari robotika. Bahkan, sejak duduk di bangku taman kanak-kanak, Nita menyatakan lebih menyukai robot daripada boneka, berbeda dengan bocah perempuan pada umumnya.

Sedangkan Bara mengaku tertantang dengan kerumitan robotika. Misalnya, menyusun dan menghitung komponen elektronik serta menyiapkan programing untuk robot dengan kemampuan tertentu.
”Biasanya, saya cepat bosan. Tetapi, itu berbeda. Saya enjoy membongkar pasangnya,” tutur remaja yang menekuni robotika sejak duduk di bangku SMP tersebut.

Tiga siswi tersebut bertemu di kegiatan ekstrakurikuler (ekskul) robotika sekolah mereka. Sekali dalam sepekan, mereka belajar bareng. Saat sudah bergumul dengan peralatan elektronik, mereka lupa waktu. Bahkan, ada yang menganggap perakitan saat menyolder sama dengan menikmati makanan.

”Awalnya, takut. Lama-lama terbiasa. Solder jadi sendoknya, timah jadi garpu dan PCB (printed circuit board) jadi piringnya. Makanannya peralatan yang saya solder,” kata Nita.

Robot yang mereka rakit memang sangat sederhana dan belum memiliki bentuk jelas. Fungsi robot yang mereka buat saat ini barulah mendeteksi garis hitam saja. Itu pun sudah cukup membuat mereka bingung.

”Paling rumit itu merancang program untuk robot. Butuh waktu empat bulan (menguasainya),” tutur Bara.

Bara memang memiliki lebih banyak pengalaman karena lebih dahulu mendalami robotika daripada dua temannya itu. Dia pernah mengalami hal buruk saat berlomba di Java Robot Contest ITS. Waktu itu dia masih duduk di kelas IX. Sensor robotnya bermasalah.

”Seharusnya, robot tim saya belok mengikuti garis hitam, tapi sensornya mati. Jadi, robotnya lurus saja,” ungkapnya.

Untuk masa mendatang, tiga perempuan itu berangan-angan bisa menciptakan sebuah robot canggih dan bermanfaat. Misalnya, Tita ingin menciptakan robot untuk dijadikan kuli pertambangan. Tujuannya, tak ada lagi manusia yang terkubur karena bekerja di pertambangan.

”Manusianya cuma bertugas memilih batubara,” ujarnya. Sedangkan Bara ingin menciptakan robot yang bisa menggantikan tugas pembantu rumah tangga. Dia juga ingin bisa membuat robot penjinak bom.

Sementara itu, Nita ingin menciptakan robot yang bisa terbang dan membantu pak pos. ”Supaya pak posnya kalau nganterin surat dalam kota lebih cepat, nggak kena macet,” tuturnya.
Di antara tiga siswi itu, yang berminat melanjutkan hobi robotika ke jenjang yang lebih serius adalah Tita.

Dia bercita-cita menjadi mahasiswi fakultas teknik ataupun yang berhubungan dengan robotika. Sedangkan Nita dan Bara hanya ingin melanjutkan kesenangan terhadap dunia robotika sebagai hobi. Nita lebih memilih menjadi dokter, namun tetap ingin bergabung dengan komunitas robot.

Sedangkan Bara ingin melanjutkan pendidikan di bidang pertambangan.